DUNIA BERBISNIS
Dell siapkan komputer ultra-mobile murah
JAKARTA: Dell Inc berencana meluncurkan notebook mini murah atau UMPC (ultra-mobile personal computer) dengan banderol harga US$399 yang dijadwalkan beredar awal Juli tahun ini.
Pabrikan komputer yang bermarkas di Texas, AS, itu belum membeberkan secara terinci mengenai rancana peluncuran UMPC murah tersebut. Namun, sumber Bloomberg dari Taiwan menyebutkan Dell tengah menyiapkan dua model UMPC murahnya, yaitu UMPC dengan kapasitas penyimpan data 8 gigabyte (GB) dan 12 GB. “Harganya sekitar US$399 -USS499 dan menurut rencana diluncurkan akhir Juni atau awal Juli,” ujar sumber tersebut. Bloomberg tidak menyebutkan profesi atau lembaga tempat bekerja sumber yang berasal dari Taiwan tersebut. Namun, beberapa situs berita komputer online menyebutkan bocoran rencana Dell itu berasal dari perusahaan komputer Taiwan, Compal. Situs panduan gadget Gearlog.com menyebutkan Compal selaku mitra OEM (original equipment manufacturer) akan memproduksi 1 juta hingga 2 juta unit UMPC Dell tahun ini. “Hanya itu yang kami ketahui sampai saat ini,” tulis laporan Gearlog.com yang dilansir Rabu, 9 April lalu. Sinyal peluncuran UMPC Dell tersebut juga keluar dari orang nomor satu pabrikan komputer AS tersebut. Michael Dell, chief executive officer Dell Inc, mengatakan vendor komputer itu juga akan meluncurkan UMPC murah seperti HP 2133 Mini-Note yang dikembangkan Hewlett-Packard. “Produk itu kami proyeksikan untuk segmen pelajar,” ujarnya Selasa lalu ketika mengomentari peluncuran UMPC murah dari Hewllet-Packard tersebut. Data teknis mengenai UMPC Dell tersebut juga belum jelas, apakah akan menggunakan layar monitor 7 inci atau 8,9 inci. Kehadiran produk Dell itu akan semakin memperluas pilihan pengguna komputer untuk mendapatkan UMPC murah, karena-ditambah dengan Eee PC dari Asus- tiga raksasa komputer dunia kini telah memiliki lini produk UMPC murah. Oleh Sutarno Bisnis Indonesia
Operator turunkan tarif dasar telepon
JAKARTA: PT Indosat Tbk menurunkan tarif dasar untuk seluruh layanan telepon dengan besaran maksimal 73%.
Operator seluler terbesar kedua di Indonesia itu merupakan operator ketiga yang mengumumkan penurunan tarif dasar pada bulan ini, setelah Telkomsel dan Telkom. Menurut Indosat, penurunan tarif itu berlaku untuk layanan seluler (Mentari, Matrix, IM3) dan jaringan tetap (StarOne dan Indosat Phone). Skema tariff yang baru akan efektif sejak 10 April untuk IM3 dan Mentari, serta 14 April untuk Matrix, StarOne dan Indosat Phone. “Penurunan di hampir semua layanan Indosat ini, selain merupakan merupakan wujud komitmen untuk memberi manfaat lebih dari yang diharapkan oleh masyarakat dan pelanggan melalui tarif telekomunikasi yang semakin murah dan terjangkau,” ujar Guntur S. Siboro, Direktur Marketing Indosat, melalui siaran pers. Dia menyatakan penurunan tarif meliputi percakapan ataupun SMS baik antara pengguna Indosat dan pengguna operator lain (off net). Penurunan terjadi pada percakapan off net dari seluler yang mencapai kisaran antara 3% dan 63% dari tarif dasar yang lama. Tarif dasar layanan prabayar Mentari secara umum turun antara 6,7% dan 45,3%, sementara tarif dasar prabayar IM3 turun antara 3,1% dan 71,4%. Tarif dasar layanan pascabayar Matrix, turun antara 1,7% dan 72,8%. Sebelum Indosat, Telkomsel mengawali keterbukaan penurunan tarif dasar telekomunikasi dengan tarif interkoneksi yang baru. Kiskenda Suriahardja, Direktur Utama PT Telkomsel, mengatakan penurunan tarif dasar rata-rata berkisar antara 50% dan 70%. Kiskenda menuturkan penurunan tarif dasar diikuti dengan tarif promosi sehingga tarif menjadi semakin lebih murah. Perubahan tarif dasar tersebut akan bersifat tetap sementara kecuali tarif promosi yang hanya berlaku hingga 30 Juni. PT Telkom Tbk juga menurunkan tarif percakapan SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) yang menggunakan telepon tetap dengan persentase penurunan yang berbeda-beda menurut zone jarak dan pembedaan waktu (time band). Ketentuan tarif baru tersebut akan berlaku efektif mulai 8 April. VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menuturkan tarif baru percakapan telepon SLJJ mengalami penurunan hingga 46% dibandingkan dengan tarif yang berlaku sebelumnya. Penurunan tarif dimaksud berlaku untuk hampir seluruh percakapan SLJJ pada seluruh zone jarak dan waktu (timeband), baik dari telepon tetap ke telepon tetap maupun dari telepon tetap ke seluler. Sekadar formalitas Gatot S. Dewa Broto, kepala Bagian Umum dan Humas Ditjen Postel, menyatakan instansinya menyampaikan penghargaan kepada operator yang telah mengumumkan daftar tarif ritelnya kepada masyarakat. “Namun hal itu masih perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan kesan sekadar memenuhi aspek formalitas dan kepatuhan,” paparnya. Dia menyatakan penyelenggara telekomunikasi yang belum menyampaikan price list-nya, diminta untuk segera menyampaikan la- poran implementasi dalam bentuk daftar tarifnya secara lengkap paling lambat pertengahan April. Dirjen Postel yang juga ketua Badan Regulasi telekomunikasi meminta operator seluler untuk lebih transaparan dalam beriklan. (Roni Yunianto/Arif Pitoyo) (widodo@bisnis.co.id) Oleh Setyardi Widodo Bisnis Indonesia
Friendster dongkrak anggota dan iklan online di Indonesia
JAKARTA: Pemilik situs jejaring sosial Friendster Incorporation menargetkan menambah keanggotaan jejaring sosial dan pasar iklan online dari Indonesia. Strategi Friendster di antaranya menyiapkan edisi Indonesia.
David Jones, Vice President of Global Marketing Friendster Incorporation menuturkan target itu saat memaparkan Friendster.com yang kini hadir dalam Bahasa Indonesia. “Indonesia penting bagi kami, untuk itu kami fokus pada pengembangan jejaring sosial ini,” ujarnya kemarin. Menurut dia, banyak peluang bisa disediakan untuk Indonesia, di samping penyediaan aplikasi spesifik dan fitur menarik, layanan situs jejaring sosial gratis itu juga mengincar iklan online. “Seratus persen pendapatan kami dari iklan dan peluang dari Indonesia saya kira akan besar. Karena di saat tertentu orang banyak mengunjungi situs jejaring sosial daripada menonton TV,” tegasnya tanpa memerinci target. Menurut Jones, Friendster adalah jejaring sosial online paling populer di Indonesia dengan lebih dari 3,9 juta pengunjung unik setiap minggu. Mengutip analisis data Alexa tanggal 1 April 2008, dia memaparkan Friendster mempunyai proporsi lima kali lebih besar daripada Facebook dan lebih dari tujuh kali lebih besar daripada MySpace. Di Indonesia, Friendster memiliki lebih dari 8 juta pengguna terdaftar dan 4 juta pengunjung unik setiap bulan melalui Friendster.com pada Februari 2008. “Karena ada 20 juta pengguna Internet di Indonesia, maka 20% di antaranya mengunjungi Friendster pada Februari 2008 dan lebih dari 40% memiliki akun di Friendster,”ujarnya. Jones mengatakan pengguna di Indonesia memiliki pola menghabiskan waktu 30 menit setiap hari di situs tersebut dan mengunjungi situs itu dalam beberapa kali seminggu untuk berkomunikasi dengan teman-teman dan saling berbagi atau menikmati konten melalui fitur-fitur yang ada. Edisi Indonesia Sebagai website terbesar kedua setelah Yahoo dan situs jejaring sosial nomor satu di Indonesia, Jones berpendapat peluncuran versi Bahasa Indonesia akan membantu Friendster mempertahankan dan lebih meningkatkan posisinya yang terdepan di Indonesia dan di kalangan warga Indonesia yang tinggal di seluruh penjuru dunia. “Dengan terobosan ini, maka pengguna dan pengunjung memiliki pilihan bahasa yang lebih lengkap untuk menelusuri situs ini mengisi konten dan menggunakan fitur-fitur jaringan sosial Friendster yang lengkap,” katanya. Friendster saat ini hadir dalam tujuh bahasa seperti Bahasa Inggris, Indonesia, China Sederhana, China Tradisional, Jepang, Korea dan Spanyol. Ketujuh bahasa ini mewakili lebih dari 67% pengguna Internet dunia atau lebih dari 75% pengguna Internet secara keseluruhan yang mencapai 1 miliar. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pilihan di Friendster telah tersedia dalam versi beta selama sekitar empat minggu. Dalam empat minggu ini lebih dari 250.000 pengguna menggunakan Friendster versi Bahasa Indonesia setiap harinya dan membuka halaman Friendster berbahasa Indonesia sebanyak 140 juta halaman per bulan. Beberapa ribu pengguna baru di Indonesia mendaftar setiap hari dan lebih dari 4.000 orang mendaftar dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pilihan. “Karena kami belum secara serius memasarkan versi Bahasa Indonesia kepada para pengguna, kami tentu saja sangat senang dengan besarnya minat pengguna pada fase beta yang singkat ini,” kata Jones. (roni.yunianto@bisnis.co.id) Oleh Roni Yunianto Bisnis Indonesia
Speedy incar 10.000 pelanggan di Jambi
JAMBI: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menargetkan meraih 10.000 pelanggan Speedy di Jambi sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut bahkan diramalkan akan melebihi target, karena banyaknya peminat Speedy di wilayah tersebut.
Tingginya minat masyarakat Jambi untuk berlangganan Speedy tersebut, terlihat dari angka pelanggan yang diperoleh Telkom di Jambi sejak akhir 2007 hingga April 2008 ini, yang telah mencapai 2.222 pelanggan. Padahal, saat ini Telkom masih dalam tahap sosialisasi Speedy di Jambi. Menurut Manager Area PT Telkom Cabang Jambi, T. Putra Efenbach, pelanggan tersebut tidak hanya berasal dari kalangan eksekutif dan perkantoran, tetapi juga dari kalangan pelajar di daerah tersebut. “Kehadiran Speedy akan membuat masyarakat di Jambi lebih melek informasi. Selain itu, akses Internet diupayakan bisa menyentuh kalangan pengusaha kecil dan menengah di Jambi. Sehingga mereka memiliki akses dan informasi yang lebih luas untuk mengembangkan usahanya,” ujarnya kemarin. Telkom, menurut dia, akan terus melakukan terobosan baru untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggan Speedy di Jambi, termasuk menambah kapasitas jaringan. Karena Jambi merupakan salah satu daerah potensial yang akan menjadi daerah bidikan Telkom. Untuk menarik minat masyarakat, Telkom Jambi juga gencar melakukan promo, seperti membagikan modem Speedy gratis dan pemberian hadiah bagi pelanggan baru Speedy di Jambi. (k17) Bisnis Indonesia
IBM perkuat solusi Information on Demand
![]()
![]()
JAKARTA: Sebagian perusahaan di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan dalam mengolah data untuk menghasilkan informasi penting yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan bisnis mereka.
Kustiawan Kusumo, Country Manager Software Group IBM Indonesia, menuturkan perusahaan yang menghadapi tantangan itu membutuhkan alat bantu untuk membuka (unlock) informasi agar siap pakai. “Jika perusahaan ingin memiliki keunggulan kompetitif mereka harus menggunakan strategi ini,” ujarnya di sela-sela pemaparan IBM Information on Demand (IoD), kemarin. Menurut Kustiawan, sudah banyak implementasi IoD oleh berbagai perusahaan di Indonesia yang menyumbang kemajuan bagi bisnis perusahaan tersebut secara bervariasi. “Terutama perbankan yang sudah pasti menggunakan salah satu elemen IoD. Elemen model biasanya juga memakai pengalaman (best practice) dan framework dari berbagai belahan dunia.” IoD adalah kemampuan perusahaan dalam mengintegrasi informasi dan mendapatkan gambaran yang dihasilkan dari analisis dan interpretasi sejumlah data seperti demografi pelanggan, historis pembelian produk, penjualan silang, pe-ngalaman Internet, transaksi online. Perangkat itu kemudian mengubah informasi untuk kebutuhan internal dan mengembangkan strategi konklusif dan berbasis fakta yang dipergunakan untuk meraih keunggulan kompetitif. IBM menyediakan portofolio software sebagai alat bantu penerapan IoD. Tan Ser Yean, Regional Technical Sales Manager IBM Software Asean untuk unit In- formation Management, menjelaskan IoD berperan dalam mengoptimalkan bisnis. Sebab, solusi itu menyediakan informasi untuk menjawab sejauh mana perusahaan mampu memberi pelayanan yang lebih baik, meningkatkan negosiasi penjualan atau memahami pelanggannya. “Kemampuan ini yang sediakan dari ujung ke ujung, mulai dari pengelolaan data dan konten sebagai bagian dari proses bisnis, menghimpun informasi secara akurat dan mudah dipahami sampai dengan pengoptimalan kinerja,” tutur Tan. Lebih spesifik Di samping menggunakan arsitektur fleksibel yang mendukung lingkungan TI yang berstandar terbuka dan heterogen, solusi IoD IBM juga dapat digabungkan dengan solusi industri spesifik lainnya untuk mempercepat implementasi. Tantangan perusahaan, tutur Tan, adalah mendapat data dari banyak sumber, membuatnya standar. Hal itu pun membutuhkan proses panjang untuk verifikasi atau memastikan data seperti yang dibutuhkan. Dalam tahap implementasi, 80% waktu juga terserap untuk pengintegrasian data sesuai dengan volume dan berbagai faktor lainnya. Tan menjelaskan perusahaan-perusahaan di berbagai negara Asean memiliki motif berbeda-beda dalam mengadopsi IoD sesuai dengan kompetitifnya pasar. Sebagian memulai lebih dulu dari aspek otomasi proses bisnis, sebagian lebih mendahulukan tata kelola, sebagian memprioritaskan peng- arsipan. Persamaannya, perhatian mereka sudah tinggi terhadap master data. Pengadopsi IoD tercepat adalah sektor perbankan dan telekomunikasi dan trennya mulai meluas ke sektor ritel dan asuransi. Oleh Roni Yunianto Bisnis Indonesia













